Aku berada tepat dipintu gerbang seperti pria emas itu katakan
Terimakasih telah menjadi bagian besar dari semua ini
Kau benar mengenai congkak nya nafsu dan individualisme
Kini, aku bersama tunas lain nya telah mengering
Kami di asaingkan dan di semayamkan oleh sebuah paksaan
Lelap kah tidurmu sang adidaya?
Aku mengeluh dan merintih seperti bayi anjing buta

Apa kau telah mengambil semua hati malaikat saat itu?
Sebab kini, itu laksana dongeng karya penyair tua
Mengapa aku harus menghamba kepada para musuhmu?
Sejauh yang aku tahu, generasimu lupa akan taring nya
Aku bahkan tidak pernah mengenali siapa dirimu
Aku hanya tahu kau benar lah pria emas itu
Ajari lah aku segala tentang kemashuran yang engkau genggam
Masih dilangit yang sama
Masih dipijakan yang sama
Namun mengapa aku tak melihat yang sepertimu lagi?
Terlalu memaksa kah jika aku berharap begitu?
Atau harus dengan naif aku katakan jika aku bisa menyamaimu?
Aku hanya bagian dari gerombolan kera yang kelaparan
Tapi, bahkan kera pun memiliki hati
Tidak ada yang bisa aku lakukan selain membual seperti ini
Bahkan untuk beribu pembual lain nya, ini adalah cara
Cara untuk melawan amarah yang tidak pernah bisa diledak kan
Kini, peran ku hanya sebagi bom waktu
Meski waktu dengan bengis nya berjalan cepat dan acuh didepan muka ku
Harusnya, aku tak pertanyakan ini kepadamu
Dan, sebelum mati lemas aku katakan. "MERDEKA!"
Terimakasih telah menjadi bagian besar dari semua ini
Kau benar mengenai congkak nya nafsu dan individualisme
Kini, aku bersama tunas lain nya telah mengering
Kami di asaingkan dan di semayamkan oleh sebuah paksaan
Lelap kah tidurmu sang adidaya?
Aku mengeluh dan merintih seperti bayi anjing buta

Apa kau telah mengambil semua hati malaikat saat itu?
Sebab kini, itu laksana dongeng karya penyair tua
Mengapa aku harus menghamba kepada para musuhmu?
Sejauh yang aku tahu, generasimu lupa akan taring nya
Aku bahkan tidak pernah mengenali siapa dirimu
Aku hanya tahu kau benar lah pria emas itu
Ajari lah aku segala tentang kemashuran yang engkau genggam
Masih dilangit yang sama
Masih dipijakan yang sama
Namun mengapa aku tak melihat yang sepertimu lagi?
Terlalu memaksa kah jika aku berharap begitu?
Atau harus dengan naif aku katakan jika aku bisa menyamaimu?
Aku hanya bagian dari gerombolan kera yang kelaparan
Tapi, bahkan kera pun memiliki hati
Tidak ada yang bisa aku lakukan selain membual seperti ini
Bahkan untuk beribu pembual lain nya, ini adalah cara
Cara untuk melawan amarah yang tidak pernah bisa diledak kan
Kini, peran ku hanya sebagi bom waktu
Meski waktu dengan bengis nya berjalan cepat dan acuh didepan muka ku
Harusnya, aku tak pertanyakan ini kepadamu
Dan, sebelum mati lemas aku katakan. "MERDEKA!"
No comments:
Post a Comment