Bukan hal yang sulit bagi murka untuk menyeringai
Hanya tampak datar jika harus mengingat disini seperti itu adanya
Seperti rantai yang mengikat kusamnya relung jiwa
Itukah sembah sabda sang mahluk fasik kepada pemilik waktu?
Buram sangat dominan kala cerca cahaya diancamnya memudar
Murka raut muka pembenci segala
Murka gerik sang nyata pada yang esa
Murka mengelitik mengemban beragam peran
Murka!
Disini hanya ada tinju telak yang tegap dengan gagahnya
Tidak ada jalan henti untuk kembali
Tidak ada sisa maaf untuk hari, menit dan detiknya
Mengelenjang memutus urat saraf hayal
Menggeliat bagai ombak pasang dipermukaan
Bagai tenggelam dalam hal yang tidak keren samasekali
Seperti mengantamkan diri
Seperti membenturkan diri
Seperti orang didalamnya yang tidak pernah mengerti
Friday, March 31, 2017
Thursday, March 30, 2017
Habis Asa
Aku mulai terbiasa mengemban luka
Mulai terbiasa untuk semua perih
Mulai terjebak dalam jeratan masalalu
Angin bawalah aku terbang bersanding dengan awan
Aku ingin tahu bagaimana rasanya melayang tanpa beban
Malam ajarkan aku kesunyian hingga aku bisa mereda dalam kelam
Tuntun aku sang alam dan tunjukan aku kelapangan
Gurui aku dengan ilmu-ilmu yang kau tanam
Sejujurnya aku terlalu rapuh berjalan
Disebrang sana terlalu terjal
Mulai terbiasa untuk semua perih
Mulai terjebak dalam jeratan masalalu
Angin bawalah aku terbang bersanding dengan awan
Aku ingin tahu bagaimana rasanya melayang tanpa beban
Malam ajarkan aku kesunyian hingga aku bisa mereda dalam kelam
Tuntun aku sang alam dan tunjukan aku kelapangan
Gurui aku dengan ilmu-ilmu yang kau tanam
Sejujurnya aku terlalu rapuh berjalan
Disebrang sana terlalu terjal
Luka
Aku pernah terluka sedalamnya lubuk hatiku
Aku pernah mengalami itu
Karenanya aku tahu betapa buruknya situasi saat itu
Betapa tak berdayanya hati
Sejatuh-jatuhnya
Sekaram-karamnya
Sesakit-sakitnya
Aku tak pernah mengerti wanita itu
Aku tak bisa memahami isi hatinya
Dengannya aku berjang
Olehnya aku dibuang
Sampai saat ini aku masih terpuruk
Muak untuk mengingat
Tak bisa berhenti untuk ingat
Ini kutukan terkejam yang aku emban
Dan datang dari orang tersayang
Bertahan dengan mengingat perlakuanmu itu
Kuat dengan membiasakan perih itu
Dan berusaha membuatmu menyesal telah meninggalkanku.
Aku pernah mengalami itu
Karenanya aku tahu betapa buruknya situasi saat itu
Betapa tak berdayanya hati
Sejatuh-jatuhnya
Sekaram-karamnya
Sesakit-sakitnya
Aku tak pernah mengerti wanita itu
Aku tak bisa memahami isi hatinya
Dengannya aku berjang
Olehnya aku dibuang
Sampai saat ini aku masih terpuruk
Muak untuk mengingat
Tak bisa berhenti untuk ingat
Ini kutukan terkejam yang aku emban
Dan datang dari orang tersayang
Bertahan dengan mengingat perlakuanmu itu
Kuat dengan membiasakan perih itu
Dan berusaha membuatmu menyesal telah meninggalkanku.
Sunday, March 26, 2017
Aku, Dirinya Dan Senja
Senja kala itu menggigil setelah hujan tumpahi permukaan bumi
Menggelap mengisyaratkan jika malam bersiap terjaga
Didalamnya aku terjaga menatap murung segala
Anjing, bisikan kasar hati yang kerap berontak
Setan, ungkapanku akan suatu hal pelik
Imanku terpuruk bersama kerasnya kekecewaan
Terlalu berat untuk sang raga mengembanya
Sempurna memang untuk membusuk dengan punahnya keinginan terbesar
Mencoba mengemispun merupakan hal bodoh mengingat malam yang kini semakin menentang
Tertutup gelap kini semakin menegaskan bahwa ini mungkin tempatku
Saturday, March 25, 2017
Pergilah
Kilauan keraguan yang kian menyingsing
Menutup harapannya untuk mengakhiri
Dusta, tawa apa ada beda diantaranya
Memaksa diri menahan perih di rongga dada
Sebagian darimu hidup didalamnya
Esok, nanti bukan jaminan untukku memahami
Lemparkan saja batu itu kekepalaku
Agar aku lupa kau telah lakukan itu
Benturkan saja sampai hancur
Hingga aku tidak pernah lagi memikirkanmu
Kau pengecut sang cinta
Kau lari saat kau merasa aku sudah habis
Mencari celah yang menjadi alasanmu pergi
Tidak lebih dari pecundang yang cerdik
Sunday, March 19, 2017
Tinggal
Layaknya mentari kau bersinar dikegelapan
Membujuk sebuah ruang untuk berseri
Hangati setiap sela-sela sempit itu dengan kasih sayang
Seketika sunyi didalamnya menghilang
Kau merubahnya dengan syair yang menjanjikan
Irama mendayu seakan hembuskan ketenangan
Tetaplah tinggal tanpa ada hingga
Tinggal lah bersama bahagia yang kau ciptakan ini
Kumohon
Aku memohon
Membujuk sebuah ruang untuk berseri
Hangati setiap sela-sela sempit itu dengan kasih sayang
Seketika sunyi didalamnya menghilang
Kau merubahnya dengan syair yang menjanjikan
Irama mendayu seakan hembuskan ketenangan
Tetaplah tinggal tanpa ada hingga
Tinggal lah bersama bahagia yang kau ciptakan ini
Kumohon
Aku memohon
Friday, March 17, 2017
Malaikat Malamku
Apa yang terjadi jika malaikatmu pergi?
Apa yang akan kau lakukan jika sang pujaan itu menghianati?
Namamu sudah tidak lagi tertulis di daftarnya
Kini kau benar-benar sendiri setelah semua kau hapus untuknya
Pengorbanan yang kini ia biarkan terombang-ambing
Penyesatan yang pernah kau anggap kesempurnaan
Hantam saja dinding yang kau buat dulu
Buatlah berkeping-keping dengan sisa lukamu
Mereka tidak meninggalkan mu seperti yang kau banggakan itu
Rantai itu telah hilang bersamanya
Sekarang tampakan wujud aslimu
Terlalu lama kau membatu pada duniamu
Lepaskan lah lelah
Bertarung lah dengan taringmu
Membencilah dengan tersenyum
Tanpakan apa yang kau punya
Dan buatlah ia menyesalinya
Apa yang akan kau lakukan jika sang pujaan itu menghianati?
Namamu sudah tidak lagi tertulis di daftarnya
Kini kau benar-benar sendiri setelah semua kau hapus untuknya
Pengorbanan yang kini ia biarkan terombang-ambing
Penyesatan yang pernah kau anggap kesempurnaan
Hantam saja dinding yang kau buat dulu
Buatlah berkeping-keping dengan sisa lukamu
Mereka tidak meninggalkan mu seperti yang kau banggakan itu
Rantai itu telah hilang bersamanya
Sekarang tampakan wujud aslimu
Terlalu lama kau membatu pada duniamu
Lepaskan lah lelah
Bertarung lah dengan taringmu
Membencilah dengan tersenyum
Tanpakan apa yang kau punya
Dan buatlah ia menyesalinya
Berakhir
Nalar berhenti melakukan tugasnya
Ombak pantai menganas kala menggilasnya
Variasi sang alam untuk pupuskan harapan
Akhir yang kejam bagi sang kesatria
Lama sudah perjalanan kapal itu hingga pantai membuatnya karam
Ombak tidak pernah mengerti meski ia merasakan jua
Namun ia sadar jika mungkin itu sebuah keputusan mutlak seorang hamba
Dan memaksa sang kesatria memupuskan harapannya
Agar seseorang tahu jika kisah tidak selalu indah
Ombak pantai menganas kala menggilasnya
Variasi sang alam untuk pupuskan harapan
Akhir yang kejam bagi sang kesatria
Lama sudah perjalanan kapal itu hingga pantai membuatnya karam
Ombak tidak pernah mengerti meski ia merasakan jua
Namun ia sadar jika mungkin itu sebuah keputusan mutlak seorang hamba
Dan memaksa sang kesatria memupuskan harapannya
Agar seseorang tahu jika kisah tidak selalu indah
Sesuatu yang hilang
Waktu kini terus melukai
Kenyataan itu girang menertawai
Anda kejam dan anda terbang
Dia yang nyata lenyap bagai sambaran petir
Apa yang anda ketahui tentang bertahan?
Bertahan dari perasaan kehilangan yang dia pertahankan
Hakimi saja aku sang sunyi
Hakimi saja sampai menjadi siklus permainanmu
Terang saja aku menantangmu kini
Tidak ada lagi yang harus aku takutkan
Karena kau telah mengambilnya dariku
Ini bukan kata puitis
Jelas ini sebuah tangisan
Tidak ada jaminan untuk berhenti terluka
Maka hujamkan saja tepat dimana aku lemah
Buat aku tidak bisa menangis lagi
Agar aku terbiasa dengan kelemahan ini!
Kenyataan itu girang menertawai
Anda kejam dan anda terbang
Dia yang nyata lenyap bagai sambaran petir
Apa yang anda ketahui tentang bertahan?
Bertahan dari perasaan kehilangan yang dia pertahankan
Hakimi saja aku sang sunyi
Hakimi saja sampai menjadi siklus permainanmu
Terang saja aku menantangmu kini
Tidak ada lagi yang harus aku takutkan
Karena kau telah mengambilnya dariku
Ini bukan kata puitis
Jelas ini sebuah tangisan
Tidak ada jaminan untuk berhenti terluka
Maka hujamkan saja tepat dimana aku lemah
Buat aku tidak bisa menangis lagi
Agar aku terbiasa dengan kelemahan ini!
Wednesday, March 15, 2017
Lemah
Bukan sesuatu yang terlalu berat untuk di emban
Namun nalar seolah meryeringai menghakimi
Nampak datar kala awan terombang-ambing tanpa kepastian
Naifkah sebuah perjuangan yang mengambang?
Karamkah mimpi panjang itu?
Kerap berperang dengan bayangan
Tak henti menantang dengungkan nada sumbang
Aku bergelut dengan tertatih aku melawan
Aku membusuk dengan hancur aku sirna
Ini sungguh pelik mengingat ini hanya ada dikepalaku
Dan hanya aku yang tahu betapa buruknya aku memandang dunia.
Betapa rentannya orang seperti aku
Namun nalar seolah meryeringai menghakimi
Nampak datar kala awan terombang-ambing tanpa kepastian
Naifkah sebuah perjuangan yang mengambang?
Karamkah mimpi panjang itu?
Kerap berperang dengan bayangan
Tak henti menantang dengungkan nada sumbang
Aku bergelut dengan tertatih aku melawan
Aku membusuk dengan hancur aku sirna
Ini sungguh pelik mengingat ini hanya ada dikepalaku
Dan hanya aku yang tahu betapa buruknya aku memandang dunia.
Betapa rentannya orang seperti aku
Subscribe to:
Comments (Atom)