Kilauan keraguan yang kian menyingsing
Menutup harapannya untuk mengakhiri
Dusta, tawa apa ada beda diantaranya
Memaksa diri menahan perih di rongga dada
Sebagian darimu hidup didalamnya
Esok, nanti bukan jaminan untukku memahami
Lemparkan saja batu itu kekepalaku
Agar aku lupa kau telah lakukan itu
Benturkan saja sampai hancur
Hingga aku tidak pernah lagi memikirkanmu
Kau pengecut sang cinta
Kau lari saat kau merasa aku sudah habis
Mencari celah yang menjadi alasanmu pergi
Tidak lebih dari pecundang yang cerdik
No comments:
Post a Comment